Dari Layang-Layang ke Radiosonde: Perjalanan Inovasi dalam Pengamatan Atmosfer


Layang-layang tipe S-Kite karya Hermann Schreck di Observatorium Lindenberg guna pengamatan atmosfer pada lapisan yang lebih tinggi
Gambar: https://awesco.eu/awe-explained/Schmidt2013.pdf


Climate4life.info - Dari Layang-Layang ke Radiosonde: Perjalanan Inovasi dalam Pengamatan Atmosfer


Pengantar

Banyak dari kita mungkin memiliki kenangan masa kecil menerbangkan layang-layang di hari yang cerah, merasakan angin menerpa wajah saat layang-layang melayang tinggi di langit.

Namun, tahukah Anda bahwa alat sederhana seperti layang-layang pernah memainkan peran penting dalam sejarah meteorologi?

Lebih dari 250 tahun yang lalu, para ilmuwan menggunakan layang-layang untuk mengumpulkan data atmosfer yang penting bagi pemahaman cuaca.



Awal Mula: Layang-Layang Sebagai Alat Observasi

Pada akhir abad ke-19, Biro Cuaca Amerika Serikat memanfaatkan layang-layang untuk melakukan pengamatan rutin terhadap atmosfer.

Tidak seperti layang-layang mainan yang kita kenal, layang-layang "kotak" yang digunakan memiliki ukuran lebih besar, dengan tinggi mencapai lebih dari 6 kaki (sekitar 1,8 meter).

alert-success

Layang-layang ini dilengkapi dengan meteorograf, alat canggih pada masanya yang mampu merekam tekanan udara, suhu, dan kelembapan relatif menggunakan grafik otomatis.

Layang-layang tersebut diterbangkan menggunakan kawat piano kuat yang ditambatkan pada gulungan bertenaga uap.

Dengan teknologi ini, para ilmuwan berhasil mendapatkan data dari atmosfer pada ketinggian hingga 3 kilometer.

Namun, proses pengumpulan data tidak bisa dilakukan secara real-time. Hasil pengamatan baru dapat diakses setelah layang-layang ditarik kembali ke darat.



Kelebihan dan Kekurangan Pengamatan dengan Layang-Layang

Dibandingkan dengan balon udara berawak yang berisiko tinggi, pengamatan menggunakan layang-layang relatif lebih aman.

Meski demikian, metode ini memiliki sejumlah keterbatasan, antara lain: 

  • Keterbatasan ketinggian: Layang-layang hanya mampu mencapai lapisan bawah atmosfer. 

  • Ketergantungan pada cuaca: Jika angin terlalu kuat atau terlalu lemah, pengamatan tidak dapat dilakukan.

  • Pengumpulan data yang lambat: Data hanya dapat dianalisis setelah layang-layang ditarik kembali. 

  • Risiko keamanan: Layang-layang yang lepas dapat membahayakan nyawa dan properti di bawahnya.



Transisi ke Teknologi Lebih Canggih: Dari Pesawat ke Radiosonde 

Seiring berkembangnya teknologi, pesawat terbang mulai menggantikan layang-layang sebagai alat pengamatan atmosfer pada awal 1930-an.

Pesawat membawa meteorograf yang dipasang di penyangga sayapnya untuk merekam tekanan, suhu, dan kelembapan pada ketinggian yang lebih tinggi, mencapai 5 kilometer di atas permukaan tanah.
Radiosonde yang sedang diterbangkan dengan balon pembawanya

Namun, kendala serupa tetap ada: pengumpulan data masih bergantung pada kondisi cuaca, dan hasil pengamatan hanya bisa dianalisis setelah pesawat mendarat.

Terobosan besar terjadi dengan pengembangan radiosonde.

Pada akhir 1920-an, pemancar radio mulai digunakan untuk mengirimkan data atmosfer dari balon besar yang tak berawak.

Radiosonde pertama, yang dirilis pada awal 1930-an, mampu mencapai stratosfer dan mengirimkan data secara real-time melalui transmisi radio.

Pada tahun 1937, jaringan stasiun radiosonde mulai beroperasi di Amerika Serikat dan terus digunakan hingga saat ini. 



Radiosonde: Fondasi Pengamatan Modern

Contoh diagram aerologis hasil pembacaan Radiosonde

Radiosonde membawa revolusi dalam pengamatan atmosfer.

Dengan kemampuan mencapai lapisan atmosfer yang lebih tinggi, beroperasi dalam segala cuaca.

Pada saat yang sama juga menyediakan data secara real-time, radiosonde menjadi tulang punggung sistem pengamatan udara atas di seluruh dunia.

Teknologi ini tidak hanya meningkatkan akurasi prakiraan cuaca tetapi juga berperan penting dalam penelitian perubahan iklim dan fenomena atmosfer lainnya.



Kesimpulan

Dari layang-layang sederhana hingga radiosonde modern, perjalanan inovasi dalam pengamatan atmosfer mencerminkan upaya manusia untuk memahami dan memprediksi dinamika cuaca.

Meski metode lama seperti layang-layang kini menjadi bagian dari sejarah, mereka memberikan pijakan penting bagi teknologi canggih yang kita nikmati hari ini.

Radiosonde tidak hanya memperluas cakrawala pengetahuan kita tentang atmosfer tetapi juga menjadi pilar dalam upaya melindungi masyarakat dari ancaman cuaca ekstrem.

Referensi:
  • [1] https://vlab.noaa.gov/web/nws-heritage/-/flying-kites-for-science
  • [2] https://awesco.eu/awe-explained/Schmidt2013.pdf [3] https://www.ncei.noaa.gov/news/climate-data-kites

Kata kunci:

Atmospheric Research
Kite Meteorograph
Meteorological Instruments
Atmospheric Data
Kite Observation

Climate4life.info mendapat sedikit keuntungan dari penayangan iklan dan digunakan untuk operasional blog ini.

Jika menurut anda artikel ini bermanfaat, maukah mentraktir kami secangkir kopi melalu "trakteer id"?

Post a Comment

5 Comments

  1. suka pula saya tengok design layang-layang macam tu...

    ReplyDelete
  2. ternyata layang-layang dari dulu punya sejarah yang membantu teknologi manusia, gak nyangka baget :)

    ReplyDelete
  3. Selalu mengalami perkembangan teknologi ya
    Yang awalnya dari sebuah layang-layang, menuju yang lebih canggih dan modern

    ReplyDelete
  4. Lebih canggih radiosonde ya pak, jadinya bisa lebih real time mengamati cuaca, belum lagi bisa terbang lebih tinggi dibandingkan dengan layang-layang.

    Btw, balon udara Cina yang dulu diledakkan pesawat Amerika Serikat saat masuk kawasan USA itu termasuk radio sonde apa bukan?

    ReplyDelete
  5. Pengamatan Radiosonde di Indonesia hingga tahun 2025 ini telah dilaksanakan di 29 stasiun Meteorologi dengan rincian
    24 Stasiun Meteorologi pengamatan 2x sehari pada jam 00 utc & 12 utc,
    1 Stasiun Meteorologi (Sentani - Jayapura) 1x sehari pada jam 00 utc, dan
    4 Stasiun Meteorologi pengamatan seminggu sekali pada jam 00 utc saja yakni Stamet Sultan Babullah-Ternate, Stamet SSK II -Pekanbaru, Stamet Wamena - Jayawijaya, dan Stamet F.X. Seda - Sikka.

    Data hasil pengamtan radiosonde dapat dikases pada link
    https://web-aviation.bmkg.go.id/maps , atau https://aviation.bmkg.go.id/monitoring_rason/index berupa gambar RAOB.

    ReplyDelete

Terima kasih atas komentarnya. Mohon tidak meletakkan link hidup yah.