![]() |
Salah satu kegiatan dari kelompok "denial climate change" atau yang menyangkal tentang bukti ilmiah adanya perubahan iklim Gambar: https://www.theguardian.com/ |
Climate4life.info - Memahami dan Mengatasi Penolakan Sains Perubahan Iklim: Strategi Efektif dalam Menghadapi Misinformasi
Pendahuluan
Apa Itu Penolakan Sains Perubahan Iklim?
Penolakan Sains Perubahan Iklim adalah sikap yang menolak bukti ilmiah tentang perubahan iklim, terutama fakta bahwa aktivitas manusia adalah penyebab utama pemanasan global.
Ini sering kali dipicu oleh ideologi politik dan didukung oleh penyebaran misinformasi yang sengaja dibuat untuk membingungkan publik.
Adanya kelompok denial perubahan iklim semakin memperumit pemahaman masyarakat tentang realitas ilmiah perubahan iklim.Mengapa Penolakan Sains Perubahan Iklim Berbahaya?
Penolakan terhadap Sains Perubahan Iklim memiliki dampak serius, seperti:
- Mengurangi Kesadaran Publik: Banyak orang tidak menyadari bahwa lebih dari 97% ilmuwan sepakat bahwa perubahan iklim disebabkan oleh manusia.
- Menghambat Kebijakan Lingkungan: Ketidakpercayaan terhadap sains membuat masyarakat dan pembuat kebijakan ragu untuk mengambil tindakan mitigasi.
- Memperburuk Krisis Iklim: Tanpa kesadaran dan aksi kolektif, pemanasan global akan terus berlanjut dan mengancam keberlanjutan lingkungan.
Teknik yang Digunakan dalam Penolakan Sains Perubahan Iklim
Menurut Cook (2017), ada lima teknik utama yang sering digunakan dalam misinformasi tentang perubahan iklim, yang disingkat sebagai FLICC:
- Fake Experts (Ahli Palsu): Menampilkan individu yang tidak memiliki keahlian ilmiah sebagai sumber informasi yang kredibel.
- Logical Fallacies (Kesesatan Logika): Menggunakan argumen yang tampaknya masuk akal tetapi sebenarnya menyesatkan.
- Impossible Expectations (Ekspektasi Mustahil): Meminta bukti ilmiah dengan standar yang tidak realistis.
- Cherry Picking (Pemilihan Data Selektif): Menggunakan data yang mendukung klaim tertentu sambil mengabaikan data lainnya.
- Conspiracy Theories (Teori Konspirasi): Mengklaim bahwa perubahan iklim hanyalah rekayasa para ilmuwan atau pemerintah.
Cara Mengatasi Penolakan Sains Perubahan Iklim
John Cook (2017) merekomendasikan dua metode utama untuk menangkal misinformasi:
-
Debunking (Membantah Misinformasi)
- Menyediakan fakta yang benar sebagai pengganti informasi yang salah.
- Menggunakan pendekatan berbasis psikologi agar informasi dapat diterima oleh berbagai kalangan.
-
Inoculation (Inokulasi Misinformasi)
- Memberikan ‘vaksin kognitif’ berupa informasi yang menjelaskan cara kerja misinformasi.
- Studi menunjukkan bahwa memperingatkan publik tentang kesalahan logika sebelum mereka terpapar misinformasi dapat meningkatkan ketahanan mereka terhadap hoaks.
Peran Teknologi dalam Mengatasi Misinformasi
Dengan berkembangnya internet dan media sosial, misinformasi menyebar lebih cepat dibandingkan sebelumnya.
Untuk mengatasinya, pendekatan technocognition dikembangkan, yaitu memanfaatkan teknologi berbasis kecerdasan buatan untuk mendeteksi dan melawan misinformasi secara otomatis. Ini termasuk:
- Algoritma pendeteksi hoaks dalam berita dan media sosial.
- Peringatan otomatis untuk konten yang mengandung informasi yang menyesatkan.
- Platform edukasi berbasis AI yang mengajarkan masyarakat tentang misinformasi iklim.
Kesimpulan
Misinformasi tentang perubahan iklim adalah ancaman serius yang menghambat kesadaran dan aksi global.
Namun, dengan memahami teknik yang digunakan dalam penolakan Sains Perubahan Iklim dan menerapkan strategi seperti debunking, inokulasi, serta teknologi berbasis AI, kita dapat melawan penyebaran misinformasi dan meningkatkan literasi iklim di masyarakat.
Referensi:
Cook, J. (2017). Understanding and countering climate science denial. Journal & Proceedings of the Royal Society of New South Wales, 150(2), 207–219.
1 Comments
ahli palsu pun ada?
ReplyDeletehaihhh macam-macam laa perangai manusia ni kalau dah tak suka sesuatu tu...
Terima kasih atas komentarnya. Mohon tidak meletakkan link hidup yah.