Review Jurnal: Cross-Equatorial Northerly Surge dan Pola Curah Hujan di Kepulauan Maritim Indonesia



Curah hujan di Laut Cina Selatan dan Kepulauan Maritim berdasarkan:
(a) Rata-rata 11 musim dingin untuk periode DJFM dari 1998 hingga 2009,
(b) Analisis komposit dari 62 kejadian CENS, dan
(c) Anomali komposit dari 62 kejadian CENS dibandingkan dengan rata-rata musim dingin 11 tahun (b-a).
Skala warna di bagian bawah menunjukkan curah hujan pada (a) dan (b), sedangkan skala di sebelah kanan menunjukkan anomali curah hujan.
@Miki HATTORI, Shuichi MORI, Jun MATSUMOTO

Review Jurnal: Cross-Equatorial Northerly Surge dan Pola Curah Hujan di Kepulauan Maritim

Pendahuluan

Curah hujan di wilayah Kepulauan Maritim dipengaruhi oleh berbagai faktor atmosferik, salah satunya adalah Cross-Equatorial Northerly Surge (CENS).

Studi yang dilakukan oleh Hattori, Mori, dan Matsumoto (2011) dalam Journal of the Meteorological Society of Japan membahas karakteristik CENS serta hubungan fenomena ini dengan pola curah hujan di Kepulauan Maritim.

Artikel ini akan mengulas temuan utama studi tersebut dan bagaimana hasilnya dapat membantu memahami dinamika cuaca di kawasan ini.

  • Fanning
  • WHO: Saat Ini Virus Corona Telah Dapat Menular Pada Berbagai Kondisi Iklim
  • Lifting Condensation Level (LCL)
  • Climate Change
  • Pengaruh Cuaca dan Iklim Pada Aktivitas Penerbangan
  • Cara membaca diagram MJO

  • Definisi dan Karakteristik Cross-Equatorial Northerly Surge (CENS)

    CENS adalah aliran angin dari utara yang melewati ekuator dan terjadi secara intermiten antara Oktober hingga April.

    Berdasarkan data QuikSCAT mengenai angin permukaan laut, CENS didefinisikan sebagai angin utara dengan kecepatan lebih dari 5 m/s di wilayah 105°E–115°E, 5°S–Ekuator.

    Dalam studi ini, peneliti mengidentifikasi 62 kejadian CENS dalam periode Desember 2000 hingga Maret 2009. Kejadian tersebut diklasifikasikan ke dalam empat pola utama:
    1. CS Pattern (Cold Surge): Terkait dengan serangan udara dingin, meningkatkan curah hujan di utara Pulau Jawa.

    2. MJO Pattern (Madden-Julian Oscillation): Berhubungan dengan variasi intra-musiman tropis, menyebabkan peningkatan curah hujan di barat Sumatra dan selatan Jawa.

    3. CS-MJO Pattern: Kombinasi dari dua pola sebelumnya, menghasilkan peningkatan curah hujan terbesar, terutama di barat laut dan sekitar Pulau Jawa.

    4. Pola lainnya: 15 kejadian yang tidak dikaitkan dengan tiga pola utama di atas.


    Hubungan CENS dengan Pola Curah Hujan

    1. CS Pattern: Dampak Serangan Udara Dingin

    Pada pola ini, serangan udara dingin dari Asia memperkuat aliran angin utara, meningkatkan tekanan dan menurunkan suhu di Laut Cina Selatan.

    Akibatnya, aktivitas konvektif di sekitar Laut Jawa dan utara Pulau Jawa meningkat.

    Hasil ini sejalan dengan studi sebelumnya oleh Chang et al. (2005), yang menunjukkan hubungan antara serangan udara dingin dan peningkatan curah hujan di Laut Cina Selatan.


    2. MJO Pattern: Pengaruh Variasi Intra-Musiman

    Pada pola ini, angin utara terjadi selama fase aktif Madden-Julian Oscillation (MJO), yang merupakan gelombang atmosferik yang bergerak dari barat ke timur di sepanjang wilayah tropis.

    Peningkatan curah hujan lebih signifikan di atas lautan dibandingkan daratan, seperti yang juga dilaporkan oleh Hidayat dan Kizu (2010).


    3. CS-MJO Pattern: Kombinasi Kedua Pola

    Gabungan karakteristik serangan udara dingin dan MJO menciptakan pola angin yang lebih kuat dan luas.

    Dampaknya, curah hujan meningkat secara signifikan di berbagai wilayah Kepulauan Maritim, termasuk bagian utara dan selatan Pulau Jawa.



    Implikasi Studi

    Hasil penelitian ini memiliki implikasi penting dalam memahami dinamika cuaca di Indonesia. Beberapa manfaatnya adalah:

    • Peningkatan prediksi cuaca ekstrem: Dengan memahami hubungan antara CENS dan pola curah hujan, prediksi terhadap hujan lebat dan potensi banjir dapat ditingkatkan.

    • Mitigasi bencana hidrometeorologi: Informasi mengenai pola hujan yang meningkat akibat CENS dapat membantu perencanaan mitigasi banjir, terutama di wilayah rentan seperti Jakarta.

    • Peningkatan pertanian dan perencanaan sumber daya air: Dengan mengetahui pola hujan yang dipengaruhi oleh CENS, sektor pertanian dapat menyesuaikan waktu tanam dan panen untuk memaksimalkan hasil produksi.


    Kesimpulan

    Studi oleh Hattori et al. (2011) menunjukkan bahwa Cross-Equatorial Northerly Surge (CENS) memiliki pengaruh signifikan terhadap curah hujan di Kepulauan Maritim.

    Pola angin ini dapat diklasifikasikan ke dalam tiga kategori utama (CS, MJO, dan CS-MJO), masing-masing dengan karakteristik dan dampak yang berbeda terhadap curah hujan.

    Pemahaman lebih lanjut mengenai fenomena ini dapat membantu meningkatkan ketepatan prediksi cuaca dan mitigasi bencana hidrometeorologi di Indonesia.


    Referensi:
    Miki HATTORI, Shuichi MORI, Jun MATSUMOTO, The Cross-Equatorial Northerly Surge over the Maritime Continent and Its Relationship to Precipitation Patterns, Journal of the Meteorological Society of Japan. Ser. II, 2011, Volume 89A, Pages 27-47, Released on J-STAGE May 05, 2011, Online ISSN 2186-9057, Print ISSN 0026-1165, https://doi.org/10.2151/jmsj.2011-A02, https://www.jstage.jst.go.jp/article/jmsj/89A/0/89A_0_27/_article/-char/en

    Climate4life.info mendapat sedikit keuntungan dari penayangan iklan dan digunakan untuk operasional blog ini.

    Jika menurut anda artikel ini bermanfaat, maukah mentraktir kami secangkir kopi melalu "trakteer id"?

    Post a Comment

    2 Comments

    1. Istilah istilah yang sangat asing bagi saya
      Kemarin sempat hujan esktrem, rumah kena imbas banjir

      ReplyDelete

    Terima kasih atas komentarnya. Mohon tidak meletakkan link hidup yah.